JAMBI – SATUKOMANDO.COM Aktivis Gerakan Anak Bangsa Peduli (GAB Peduli), Syaiful Iskandar, kembali menyuarakan penolakan tegas terhadap rencana pembangunan stockpile dan Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) batubara di wilayah Jambi. Menurutnya, perjuangan menolak proyek tersebut bukan sekadar reaksi emosional atau sikap anti-investasi, melainkan ikhtiar panjang untuk menjaga ruang hidup generasi masa depan yang kian tergerus oleh kepentingan industri ekstraktif.
Syaiful menegaskan bahwa pembangunan stockpile dan TUKS batubara selama ini selalu dibungkus dengan narasi administratif—proposal, izin, dan dokumen teknokratis—namun mengabaikan realitas sosial, ekologis, dan kesehatan masyarakat di sekitar wilayah terdampak. “Ruang hidup tidak boleh direduksi hanya menjadi lampiran proposal atau peta koordinat investasi,” tegasnya.
Ia menyebut, pengalaman bertahun-tahun di daerah-daerah penghasil dan jalur distribusi batubara menunjukkan pola yang sama: degradasi lingkungan, pencemaran udara dan air, rusaknya lahan pertanian, meningkatnya risiko banjir, hingga konflik sosial yang berkepanjangan. Dalam konteks ini, stockpile dan TUKS bukan sekadar fasilitas logistik, tetapi simpul kerusakan ekologis yang dampaknya bersifat permanen.
“Batubara mungkin memberi keuntungan jangka pendek, tetapi kerusakan ruang hidup adalah beban jangka panjang yang diwariskan kepada anak cucu. Ini bukan soal hari ini, tapi soal masa depan,” ujar Syaiful.
Lebih jauh, ia mengkritik cara pandang pembangunan yang masih menjadikan wilayah sungai, pesisir, dan permukiman rakyat sebagai ruang kosong yang siap dieksploitasi. Padahal, wilayah tersebut adalah ruang hidup aktif—tempat masyarakat menggantungkan ekonomi, budaya, dan keberlanjutan hidupnya. “Ketika sungai dijadikan jalur batubara, maka nelayan, petani, dan warga sekitar secara perlahan disingkirkan,” katanya.
Syaiful juga menekankan bahwa penolakan ini merupakan bagian dari upaya menegakkan keadilan ekologis. Ia menilai negara seharusnya hadir tidak hanya sebagai pemberi izin, tetapi sebagai pelindung ruang hidup rakyat. Evaluasi menyeluruh terhadap dampak kumulatif stockpile dan TUKS batubara dinilai mendesak, bukan sekadar penilaian formalitas dokumen lingkungan.
“Jangan jadikan masa depan Jambi hanya sebagai angka produksi dan tonase batubara. Ruang hidup jauh lebih bernilai daripada sekadar target investasi,” pungkasnya.
Perjuangan menolak stockpile dan TUKS batubara, menurut Syaiful, adalah perjuangan mempertahankan hak dasar atas lingkungan hidup yang sehat. Bukan untuk menggagalkan pembangunan, melainkan untuk memastikan pembangunan tidak mengorbankan masa depan. Disungai Batanghari ada beberapa PDAM untuk melayani kebutuhan hidup hayat orang banyak
