Merangin Satukomando.com – Kota Sungai Penuh baru-baru ini menjadi sorotan, bukan karena gemerlap prestasi olahraga, melainkan karena kontras mencolok antara sebuah ajang bergengsi dengan kondisi fasilitas yang memprihatinkan. Gelaran Mendagri Cup Taekwondo, sebuah kompetisi bela diri tingkat nasional yang seharusnya menjadi kebanggaan, harus dilaksanakan di Gedung Olahraga (GOR) KONI Kota Sungai Penuh yang kondisinya jauh dari kata layak. Pemandangan miris ini memicu pertanyaan besar tentang komitmen terhadap pengembangan olahraga dan kesejahteraan atlet.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di area GOR KONI, kesan “rumah hantu” atau gedung terbengkalai sudah sangat terasa. Dinding-dinding yang kusam dengan cat mengelupas, lantai keramik yang pecah dan berdebu, serta pintu-pintu yang rusak dan seolah tak terawat, menjadi sambutan yang jauh dari standar sebuah fasilitas olahraga. Bahkan, beberapa bagian gedung terlihat seperti telah lama ditinggalkan, dengan kerusakan struktural yang jelas terlihat. Fasilitas pendukung seperti toilet, ruang ganti, atau area istirahat dipastikan tidak memadai, menambah daftar panjang kekurangan yang ada.
Namun, di tengah kondisi yang memprihatinkan ini, spanduk bertuliskan “SELAMAT BERTANDING” dengan gambar atlet taekwondo gagah terpampang, seolah menjadi ironi yang menyayat hati. Ajang Mendagri Cup Taekwondo, yang membawa nama besar Kementerian Dalam Negeri, tetap dipaksakan berjalan di lokasi tersebut.

Situasi ini bukan hanya sekadar ketidaknyamanan bagi penonton, tetapi juga mencerminkan kurangnya penghargaan terhadap para atlet yang telah berlatih keras. Bagaimana mungkin seorang atlet dapat menampilkan performa terbaiknya di lingkungan yang tidak mendukung, bahkan terkesan membahayakan? Ini adalah cerminan nyata dari masalah infrastruktur olahraga di daerah yang seringkali luput dari perhatian.

Kondisi GOR KONI Kota Sungai Penuh yang “sangat tidak layak” namun tetap dipaksakan menjadi tuan rumah event sekelas Mendagri Cup, adalah tamparan keras bagi dunia olahraga. Ini menimbulkan pertanyaan tentang standar kelayakan, pengawasan, dan alokasi anggaran untuk pemeliharaan fasilitas publik. Sudah saatnya pihak berwenang, baik pemerintah daerah maupun KONI, melakukan evaluasi menyeluruh dan mengambil langkah konkret untuk memperbaiki kondisi ini. Jangan sampai semangat dan potensi atlet muda di Sungai Penuh harus terganjal oleh fasilitas yang usang.(DA)
