
METRO | Kondisi Shopping Center Kota Metro kembali menjadi sorotan warga dan mahasiswa. Bangunan yang berada di kawasan pusat kota tersebut dinilai membutuhkan perhatian serius karena kondisi fisik yang mulai terlihat tua, kusam, kurang terawat, serta aktivitas perdagangan di dalamnya yang dinilai semakin sepi.
Sejumlah warga bahkan mendorong agar pemerintah tidak sekadar melakukan pengecatan, tetapi menyusun konsep revitalisasi yang mampu menghidupkan kembali kawasan tersebut sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat Kota Metro.
Silvia Lokita, warga Metro, menilai wajah Shopping Center perlu diperbarui agar tidak terkesan sebagai bangunan tua dan terbengkalai.
“Kalau dibagusin, mungkin bisa mulai dari catnya diganti supaya lebih cerah. Bangunannya kan sudah lama, kelihatan seperti bangunan tua,” ujar Silvia, kepada media, Jum’at, (11/9/2026).
Menurut Silvia, perubahan tampilan fisik dapat menjadi langkah awal untuk mengembalikan minat masyarakat berkunjung.
Ia juga menilai kondisi Shopping Center saat ini kurang menarik karena sebagian toko di dalamnya sudah tidak aktif.
“Kalau dicat ulang dan diganti warnanya, kan bisa jadi lebih bagus. Jadi orang juga tidak takut untuk datang ke situ,” katanya.
Ia mengaku saat ini sudah jarang mengunjungi Shopping Center karena aktivitas perdagangan di dalamnya dinilai semakin berkurang.
“Di dalamnya toko-tokonya sudah sedikit, bangunannya juga sudah tua dan catnya sudah lama. Jadi memang kurang menarik untuk datang,” ungkapnya.
Silvia pun membuka opsi agar fungsi bangunan tersebut dikembangkan atau dialihfungsikan apabila konsep perdagangan yang ada saat ini memang sudah tidak mampu berjalan optimal.
“Kalau memang memungkinkan, mungkin bisa dialihfungsikan menjadi tempat lain yang lebih bermanfaat,” tambah Silvia.
Senada, Muhammad Alvi, warga Kota Metro, menilai Shopping Center seharusnya mendapat perhatian lebih serius karena lokasinya berada di pusat kota dan berpotensi menjadi salah satu ikon daerah.
“Harus dibenerin lagi. Menurut saya, itu bisa menjadi salah satu ikon masyarakat Kota Metro,” tegas Alvi.
Ia menilai kondisi bangunan yang kurang terawat justru membuat kawasan tersebut kehilangan daya tarik. Bahkan, persoalan kebersihan turut menjadi keluhan.
“Tidak terawat. Banyak tempat yang bau pesing, sehingga membuat kita yang nongkrong atau sekadar lewat menjadi tidak nyaman,” katanya.
Alvi juga menyoroti kondisi fisik bangunan yang dinilainya semakin memprihatinkan. Ia menyebut terdapat bagian bangunan yang ditumbuhi lumut hingga tanaman.
“Bisa kita lihat sendiri kondisinya, banyak lumut. Bahkan di beberapa titik ada pohon yang tumbuh di atas bangunan Shopping Center. Itu sangat memprihatinkan, apalagi lokasinya berada di tengah Kota Metro,” ujar Alvi.
Menurutnya, pemerintah perlu segera mengambil langkah nyata untuk memperbaiki kondisi bangunan sekaligus menentukan arah pengelolaan Shopping Center ke depan.
Sementara itu, Dila, mahasiswa Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung (UIN) Jusila Metro, memiliki pandangan berbeda terkait wacana mengubah Shopping Center menjadi hotel atau mal.
Menurutnya, karakter Shopping Center sebagai ruang perdagangan yang dapat diakses masyarakat luas justru perlu dipertahankan dan dikembangkan.
“Kalau hotel, penggunaannya lebih privat. Sedangkan pasar Shopping dikunjungi masyarakat luas. Kalau sistemnya seperti pasar terbuka dengan harga yang lebih terjangkau, justru bisa lebih banyak dikunjungi dan dikenal masyarakat,” jelas Dila.
Dila menilai solusi yang lebih tepat bukan serta-merta menghilangkan fungsi Shopping Center, melainkan melakukan pembenahan fasilitas dan memperkuat aktivitas ekonomi di dalamnya.
“Menurut saya, fasilitasnya perlu ditingkatkan, dibenahi dan dikembangkan lagi,” katanya.
Ia juga mendorong agar keberadaan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang sudah berada di kawasan tersebut menjadi bagian penting dalam konsep revitalisasi.
“Kalau sudah menjadi ikon, menurut saya UMKM-nya saja yang dikembangkan. Jangan justru menghilangkan fungsi yang sudah ada,” pungkas Dila.| (Rio).
