Ekonomi Lampung Tumbuh 5,29 Persen, Kemiskinan Masih Jadi Tantangan

BANDAR LAMPUNG – Perekonomian Provinsi Lampung tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada Triwulan II 2026. Namun, di tengah pertumbuhan ekonomi tersebut, tantangan kesejahteraan masyarakat masih membayangi, mulai dari kemiskinan perkotaan hingga meningkatnya pekerja informal dan setengah pengangguran.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, pertumbuhan ekonomi pada Triwulan II 2026 mencapai 5,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/y-on-y). Secara triwulanan, ekonomi Lampung tumbuh 9,03 persen dibandingkan Triwulan I 2026.

Sementara itu, secara kumulatif, perekonomian Lampung pada Semester I 2026 tumbuh 5,43 persen dibandingkan Semester I 2025.

Data tersebut disampaikan Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution, dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik di Bandar Lampung, Rabu (5 Agustus 2026).

Selain pertumbuhan ekonomi, BPS mencatat penurunan tingkat kemiskinan dan peningkatan jumlah penduduk bekerja. Meski demikian, sejumlah indikator menunjukkan bahwa perbaikan ekonomi masih perlu diikuti peningkatan kualitas kesejahteraan dan pekerjaan.

Kemiskinan Lampung Turun, 831 Ribu Warga Masih Terdampak

BPS mencatat tingkat kemiskinan Lampung pada Maret 2026 sebesar 9,31 persen, turun 0,35 poin persentase dibandingkan September 2025.

Jumlah penduduk miskin juga berkurang sebanyak 28,24 ribu orang menjadi 831,89 ribu orang.

Dalam jangka panjang, tingkat kemiskinan Lampung menunjukkan tren penurunan. Pada Maret 2020, angka kemiskinan tercatat 12,34 persen, sebelum turun menjadi 9,31 persen pada Maret 2026.

Namun, jika dilihat berdasarkan wilayah, kemiskinan masih lebih tinggi di perdesaan dibandingkan perkotaan.

Pada Maret 2026, tingkat kemiskinan perdesaan tercatat 10,41 persen, sedangkan perkotaan sebesar 7,28 persen. Dibandingkan periode sebelumnya, kemiskinan perdesaan turun 0,47 poin persentase, sementara perkotaan hanya turun 0,09 poin persentase.

Data ini menunjukkan bahwa meskipun angka kemiskinan secara keseluruhan menurun, pemerataan kesejahteraan antarwilayah masih menjadi pekerjaan rumah.

Kedalaman Kemiskinan Perkotaan Meningkat

Tantangan lain terlihat dari meningkatnya indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan secara agregat.

Indeks Kedalaman Kemiskinan atau P1 Lampung naik dari 1,228 pada September 2025 menjadi 1,267 pada Maret 2026. Kenaikan ini menunjukkan bahwa secara rata-rata, pengeluaran penduduk miskin semakin jauh dari garis kemiskinan.

Sementara itu, Indeks Keparahan Kemiskinan atau P2 meningkat dari 0,242 menjadi 0,257. Angka tersebut menunjukkan meningkatnya ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin.

Perkembangan di perkotaan menjadi perhatian tersendiri. Indeks P1 perkotaan meningkat dari 0,773 menjadi 0,989, sedangkan indeks P2 naik dari 0,127 menjadi 0,217.

Sebaliknya, di perdesaan kedua indikator tersebut justru membaik. Indeks P1 turun dari 1,472 menjadi 1,417, sedangkan P2 menurun dari 0,303 menjadi 0,278.

Artinya, meskipun tingkat kemiskinan perdesaan masih lebih tinggi, kondisi kedalaman dan keparahan kemiskinan di wilayah tersebut menunjukkan perbaikan. Sebaliknya, penduduk miskin perkotaan menghadapi tekanan yang perlu mendapat perhatian lebih besar.

BPS juga mencatat Garis Kemiskinan Lampung pada Maret 2026 sebesar Rp657.467 per kapita per bulan, meningkat 3,69 persen dibandingkan September 2025.

Garis Kemiskinan di perkotaan mencapai Rp708.693 per kapita per bulan, sedangkan di perdesaan sebesar Rp631.717 per kapita per bulan.

Komponen makanan masih mendominasi pembentukan Garis Kemiskinan dengan kontribusi 75,23 persen. Beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, dan tempe menjadi sejumlah komoditas makanan yang berpengaruh, sementara perumahan, bensin, listrik, dan pendidikan termasuk komponen bukan makanan yang turut berperan.

Pekerja Bertambah, Kualitas Lapangan Kerja Disorot

Dari sisi ketenagakerjaan, jumlah penduduk bekerja di Lampung terus meningkat. Pada Mei 2026, sekitar 71 dari setiap 100 penduduk usia kerja tercatat aktif dalam angkatan kerja.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada pada angka 3,97 persen atau sekitar empat dari setiap 100 orang dalam angkatan kerja masih menganggur.

Penambahan tenaga kerja terbesar terjadi pada sektor pertanian sebanyak 15,94 ribu orang, disusul industri sebanyak 8,18 ribu orang dan perdagangan sebanyak 4,74 ribu orang.

Sektor pertanian tetap menjadi lapangan usaha dengan penyerapan tenaga kerja terbesar di Lampung.

Namun, pertumbuhan jumlah penduduk bekerja belum sepenuhnya diikuti perbaikan kualitas pekerjaan.

Proporsi pekerja penuh turun dari 59,93 persen pada Februari 2026 menjadi 57,17 persen pada Mei 2026. Pada periode yang sama, tingkat setengah pengangguran meningkat dari 8,62 persen menjadi 9,55 persen.

Proporsi pekerja paruh waktu juga naik dari 31,45 persen menjadi 33,28 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian penduduk bekerja belum tentu memperoleh jam kerja yang memadai atau pekerjaan sesuai kapasitas yang diharapkan.

Pekerja Informal Mendominasi

Struktur ketenagakerjaan Lampung juga masih didominasi sektor informal.

Pada Mei 2026, pekerja formal tercatat sebesar 30,83 persen dari total penduduk bekerja. Sebaliknya, pekerja informal mencapai 69,17 persen, meningkat dibandingkan November 2025 yang sebesar 65,81 persen.

Berdasarkan status pekerjaan, kelompok buruh, karyawan, dan pegawai memiliki proporsi terbesar, yakni 28,33 persen. Sementara itu, penduduk yang berusaha sendiri mencapai 21,95 persen.

Dominasi pekerjaan informal menjadi tantangan karena kualitas pekerjaan tidak hanya ditentukan oleh status bekerja, tetapi juga oleh kestabilan pendapatan, produktivitas, perlindungan sosial, serta kepastian kerja.

Karena itu, peningkatan kesempatan kerja perlu diiringi upaya memperluas lapangan kerja produktif dan meningkatkan akses pekerja terhadap perlindungan serta jaminan sosial.

Pertumbuhan Ekonomi Perlu Diikuti Pemerataan

Selain pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan, indikator inflasi juga menjadi bagian penting dalam membaca kondisi sosial ekonomi Lampung.

BPS mencatat inflasi tahunan Lampung pada Maret 2026 sebesar 1,16 persen. Sejumlah komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi antara lain daging ayam ras, bensin, telur ayam ras, beras, dan vitamin.

Secara keseluruhan, data BPS menunjukkan perkembangan positif pada pertumbuhan ekonomi dan penurunan jumlah penduduk miskin. Namun, meningkatnya kedalaman serta keparahan kemiskinan secara agregat dan membesarnya proporsi pekerja informal memperlihatkan bahwa tantangan kesejahteraan belum sepenuhnya teratasi.

Pertumbuhan ekonomi yang kuat perlu diterjemahkan menjadi peningkatan pendapatan rumah tangga, penciptaan pekerjaan yang lebih berkualitas, serta pemerataan kesempatan ekonomi di perdesaan dan perkotaan.

Dengan demikian, keberhasilan pembangunan Lampung tidak hanya diukur dari besarnya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat dapat menikmati manfaatnya melalui pekerjaan yang layak dan peningkatan taraf hidup.

Ekonomi Lampung Tumbuh 5,29 Persen, Kemiskinan Masih Jadi Tantangan

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas