DELISERDANG — SATUKOMANDO.COM Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memperkuat sistem transportasi publik di kawasan metropolitan Medan, Binjai, dan Deli Serdang (Mebidang). Penguatan tersebut ditandai dengan peresmian operasional Bus Rapid Transit (BRT) Mebidang oleh Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution, Rabu (19/8/2026).
Pengoperasian BRT Mebidang menjadi langkah pemerintah menghadirkan angkutan massal yang lebih teratur, aman, nyaman, terjangkau, sekaligus mendukung pengurangan ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.
Penggunaan bus listrik juga menjadi bagian dari strategi pemerintah mendorong transportasi yang lebih ramah lingkungan di tengah meningkatnya aktivitas kendaraan dan kepadatan lalu lintas kawasan perkotaan.
Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution menegaskan, keberhasilan BRT tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan armada. Ketepatan waktu, keselamatan, kenyamanan, tarif yang terjangkau, serta kemudahan akses harus menjadi standar pelayanan yang dijaga secara konsisten.
Menurut Bobby, transportasi publik harus mampu memberikan pelayanan yang dapat diandalkan sehingga masyarakat memiliki alasan kuat untuk beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.
“Semakin banyak kendaraan pribadi, semakin sulit pemerintah memberikan pelayanan. Karena itu pemerintah harus menyiapkan transportasi umum,” ujar Bobby.
BRT Harus Terintegrasi, Bukan Sekadar Penambahan Armada
Bobby menegaskan, BRT Mebidang harus ditempatkan sebagai bagian dari sistem transportasi metropolitan yang terintegrasi. Konektivitas antara Medan, Binjai, dan Deli Serdang dinilai menjadi kunci agar layanan tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia meminta kepentingan sektoral tidak menjadi penghambat dalam membangun sistem transportasi yang terhubung.
Integrasi antarrute, antarmoda, maupun antarwilayah harus diperkuat sehingga perjalanan masyarakat menjadi lebih mudah dan efisien.
“Ini bukan launching bus, tapi transportasi yang terkoneksi dan terintegrasi, sekaligus mendorong perubahan budaya mobilitas masyarakat dari kendaraan pribadi menuju transportasi umum,” tegas Bobby.
Usai peresmian, Bobby bersama rombongan turut menjajal langsung layanan BRT Mebidang. Ia menaiki bus listrik dari Terminal Lubukpakam menuju Pos Blok Lapangan Merdeka Medan untuk melihat secara langsung kondisi perjalanan dan konektivitas layanan dari kawasan Deli Serdang menuju pusat Kota Medan.
Transportasi Publik Jadi Bagian dari Kebijakan Nasional
Direktur Angkutan Jalan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Muiz Thohir, mengatakan pengembangan BRT Mebidang sejalan dengan kebijakan nasional dalam membangun sistem transportasi perkotaan yang modern, terstruktur, dan terintegrasi.
Menurutnya, pengembangan kawasan perkotaan menjadi salah satu fokus dalam RPJMN 2025–2029, termasuk Medan dan kawasan sekitarnya.
Pertumbuhan kawasan perkotaan, kata Muiz, harus diikuti dengan sistem transportasi yang mampu mengakomodasi peningkatan mobilitas masyarakat.
Ia menyebut berdasarkan data TomTom Traffic Index, tingkat kemacetan di Kota Medan tercatat sekitar 54,2 persen. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan angkutan massal yang mampu mengangkut masyarakat dalam jumlah besar secara lebih teratur.
Transportasi publik juga dinilai memiliki dampak lebih luas, mulai dari efisiensi energi, pengurangan emisi, peningkatan produktivitas ekonomi hingga kualitas hidup masyarakat.
“Pembangunan bukan semata proses fisik. Ada investasi bagi kualitas hidup masyarakat, produktivitas ekonomi serta masa depan yang lebih hijau,” ujar Muiz.
30 Bus Listrik Disiapkan, Operasional Penuh Ditargetkan Desember
Kepala Dinas Perhubungan Sumatera Utara Yuda Pratiwi Setiawan mengatakan, pengoperasian BRT listrik Mebidang merupakan bagian dari strategi memperkuat konektivitas antarkawasan sekaligus menyediakan transportasi publik yang aman, nyaman, efisien, dan ramah lingkungan.
Sebanyak dua unit bus listrik telah menjalani tahap uji coba. Evaluasi dilakukan untuk memastikan kesiapan kendaraan, rute, waktu tempuh, pola perjalanan, hingga respons masyarakat sebelum layanan diterapkan secara penuh.
Yuda menyebut operasional penuh BRT Mebidang ditargetkan mulai 8 Desember 2026 dengan total 30 bus listrik.
Rinciannya, 14 unit akan melayani Koridor 11 dengan rute Teladan–Terminal Lubukpakam, sedangkan 13 unit ditempatkan di Koridor 12 dengan rute Simpang Barat–Binjai. Tiga unit lainnya disiapkan sebagai armada cadangan.
“Operasi penuh ditargetkan mulai 8 Desember 2026 dengan total 30 bus listrik, terdiri atas 14 unit untuk Koridor 11, 13 unit untuk Koridor 12, dan tiga unit sebagai armada cadangan,” jelas Yuda.
Pada tahap operasional penuh, tarif penumpang umum direncanakan sebesar Rp4.300. Sementara tarif khusus Rp3.000 disiapkan bagi kelompok tertentu, termasuk pelajar, penyandang disabilitas, dan lanjut usia.
Tarif tersebut diharapkan membuat transportasi publik semakin terjangkau sekaligus menjadi alternatif ekonomis bagi masyarakat dalam melakukan perjalanan di kawasan Mebidang.
Peresmian BRT Mebidang turut dihadiri Staf Khusus Presiden sekaligus Komisaris Utama PT Blue Bird Bayu Priawan Djokosoetjono, Direktur PT Big Bird Pusaka Kresna Priawan Djokosoetjono, Ketua Kadin Sumut Firsal Dida Mutiara, Bupati Deli Serdang Asri Ludin Tambunan, Wali Kota Binjai Amir Hamzah, Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap, Ketua Komisi D DPRD Sumut Timbul Jaya Hamonangan, serta jajaran Forkopimda Sumut dan Deli Serdang.
Dengan beroperasinya BRT Mebidang, pemerintah dituntut tidak berhenti pada penyediaan armada. Konsistensi pelayanan, ketepatan waktu, integrasi antarmoda dan antarkawasan, serta kenyamanan penumpang akan menjadi ukuran utama apakah BRT mampu mengubah pola mobilitas masyarakat dan mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
Red:(Refles)
