BANGKO Satukomando.com – Ketertarikan dua evaluator UNESCO Global Geopark terhadap seni kain khas Kabupaten Merangin tampaknya bukan hanya formalitas.
Setelah sempat mencicipi pembuatan kain batik di Sanggar Srikandi Markeh pada Selasa (11/8), Prof. Dr. Yongmun Jeon dan Mr. Nicolas Klee kembali menjajal keterampilan mereka dalam membatik pada Rabu (12/8).
Kali ini, lokasi yang dituju adalah Omah Batik Kitab Wong Siau yang dikelola oleh Pondok Pesantren Al-Aziziah, Desa Muara Siau, Kecamatan Muara Siau.
Di sanggar batik berbasis pesantren tersebut, kedua asesor internasional diperkenalkan dengan dua teknik pembuatan batik cap dengan motif “kumbang”, serta batik lukis yang mengangkat kearifan lokal berupa motif ambung (keranjang rotan), lumbung padi, hingga buah nanas.
Suasana kaku penilaian seketika cair ketika Mr. Nicolas Klee (Monts D’Ardèche UNESCO Global Geopark, Prancis) dan Prof. Dr. Yongmun Jeon (Jeju Island UNESCO Global Geopark, Korea Selatan) mulai memegang canting dan cap batik. Canda tawa pun pecah saat keduanya saling membandingkan hasil karya masing-masing.
“Sepertinya saya jauh lebih profesional, karena ini sudah kedua kalinya saya mencoba. Tidak seperti Anda,” seloroh Mr. Nicolas sambil berseloroh ke arah Prof. Yongmun Jeon yang sedang berhati-hati menempelkan cap ke atas kain.
Tak mau kalah, Prof. Yongmun Jeon menyambut sindiran rekannya tersebut dengan gurauan balasan yang memancing gelak tawa para santri dan pendamping yang hadir.
“Ya, Anda mungkin lebih profesional dalam batik cap karena kemarin sudah mencobanya. Tapi kalau untuk urusan batik tulis atau lukis, saya jelas jauh lebih profesional dibanding Anda,” balas asesor asal Korea Selatan tersebut santai.
Kehadiran unit usaha batik di lingkungan Ponpes Al-Aziziah ini juga menjadi perhatian tersendiri bagi tim penilai. Kegiatan membatik di pesantren ini merupakan pembelajaran sekaligus sarana mengasah keahlian para santri.
Eka, salah satu santriwati kelas II Madrasah Aliyah Ponpes Al-Aziziah, menceritakan bahwa aktivitas membatik ini digemari para santri sebagai kegiatan ekstrakurikuler seusai jam pelajaran sekolah.
“Kami membatik sebagai kegiatan ekstrakurikuler setelah jam pelajaran sekolah selesai. Selain untuk mengasah keterampilan, hasil karya ini juga jadi poin nilai tambahan buat kami,” ujar Eka di sela-sela mendampingi kedua tamu internasional tersebut.
Pelestarian budaya melalui pendidikan berbasis komunitas seperti di Ponpes Al-Aziziah ini menjadi salah satu pilar penting culturdiversity dan pemberdayaan masyarakat (community empowerment) yang dinilai sangat kuat dalam mendukung keberlanjutan Geopark Merangin-Jambi di mata UNESCO. (DA)
