JAMBI— SATUKOMANDO.COM Pertamina Hulu Rokan (PHR) terus memperkuat keberlanjutan produksi minyak dan gas bumi (migas) sebagai bagian dari upaya menopang ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan energi serta tantangan alamiah berupa penurunan produksi dari lapangan-lapangan migas yang telah memasuki usia matang.
Strategi tersebut dilakukan melalui optimalisasi lapangan eksisting, eksplorasi sumber daya baru, serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan perolehan migas.
Corporate Secretary PHR, Eviyanti Rofraida, mengatakan posisi PHR memiliki peran strategis karena menjadi salah satu kontributor utama produksi migas nasional.
Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Sosialisasi Kebijakan Energi, Akselerasi Kapasitas Publik dalam Pemahaman Kebijakan Energi Nasional dan Isu Strategis serta Cadangan Energi Nasional yang berlangsung di Kampus Universitas Jambi, Rabu (23/9/2026).
Menurut Eviyanti, produksi PHR Regional 1 memberikan kontribusi yang signifikan terhadap produksi migas nasional.
> “PHR itu KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) dengan produksi terbesar. Kalau total produksi seluruh PHR Regional 1, hampir sepertiga produksi migas nasional. Itu menggambarkan betapa strategisnya posisi PHR,” ujar Eviyanti.
Pertahankan Produksi Lapangan Eksisting
Eviyanti menjelaskan, tantangan utama industri migas saat ini bukan hanya mencari sumber produksi baru, tetapi juga mempertahankan tingkat produksi dari lapangan yang telah beroperasi.
Pasalnya, lapangan migas yang telah memasuki usia matang secara alamiah akan mengalami penurunan produksi atau decline. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika kebutuhan energi nasional terus meningkat.

Karena itu, PHR menerapkan strategi berlapis untuk menjaga tingkat produksi, salah satunya dengan mempertahankan baseline production dari lapangan eksisting agar penurunan produksi dapat ditekan seminimal mungkin.
> “Yang utamanya adalah memaintain baseline, bagaimana yang sudah ada ini kalaupun turun, decline-nya tidak jauh. Kalau bisa kita maintain tidak turun, kalaupun turun sedikit,” katanya.
Strategi tersebut kemudian diperkuat dengan pencarian sumber produksi baru melalui eksplorasi dan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan tingkat perolehan migas dari sumber daya yang tersedia.
Teknologi dan Eksplorasi Jadi Penopang Produksi
PHR juga terus mengevaluasi berbagai potensi sumber daya berdasarkan data yang tersedia. Eksplorasi dilakukan untuk menemukan sumber daya baru yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber produksi.
Di sisi lain, teknologi menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas lapangan migas. Berbagai pendekatan teknologi digunakan untuk mengoptimalkan cadangan sekaligus meningkatkan efisiensi kegiatan produksi.
Di Jambi, salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah Puspa Asri. Proyek tersebut diproyeksikan memberikan tambahan produksi yang strategis bagi Pertamina EP Jambi.
Pengembangan proyek tersebut menunjukkan bahwa penguatan ketahanan energi tidak hanya bergantung pada penemuan lapangan baru. Kemampuan mengoptimalkan sumber daya yang telah tersedia melalui teknologi, inovasi, serta pengelolaan lapangan yang tepat juga menjadi faktor penting.
Eviyanti menegaskan keberlanjutan produksi migas membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, perguruan tinggi, serta pemangku kepentingan lainnya.
Dukungan lintas sektor dinilai diperlukan agar kegiatan operasi, eksplorasi, hingga pengembangan wilayah kerja baru dapat berlangsung secara aman, efektif, dan berkelanjutan.
DEN Dorong Peningkatan Produksi dan Cadangan Penyangga
Dalam kegiatan yang sama, Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), Muhammad Kholid Syeirazi, menekankan bahwa peningkatan produksi energi menjadi salah satu langkah mendasar untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Menurutnya, Indonesia perlu meningkatkan produksi energi, baik yang berasal dari sumber energi fosil maupun nonfosil, guna mengurangi ketergantungan terhadap impor.
> “Untuk meningkatkan ketahanan energi agar kita tidak bergantung kepada impor, tentu saja kita harus menambah produksi, baik yang fosil maupun nonfosil. Untuk minyak berarti meningkatkan lifting, begitu juga gas,” ujarnya.
Selain meningkatkan produksi migas, diversifikasi energi juga menjadi bagian dari strategi ketahanan energi nasional.
Pengembangan biodiesel, misalnya, menjadi salah satu instrumen untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor solar. Pemerintah juga mendorong pengembangan etanol sebagai salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan bensin.
B50 Butuh Kesiapan Feedstock
Dalam pengembangan biodiesel, penerapan B50 menjadi salah satu agenda yang membutuhkan kesiapan dari sisi produksi maupun bahan baku.
Kholid mengatakan peningkatan penggunaan biodiesel harus diikuti dengan ketersediaan feedstock atau bahan baku yang memadai.
> “Tantangannya masih sangat besar. Produksi kita terus naik, tetapi jangan sampai kemudian B50 ini kekurangan feedstock. Kita harus memastikan target produksi untuk menopang B50 itu cukup,” katanya.
Karena itu, peningkatan produktivitas perkebunan menjadi salah satu opsi yang perlu diperkuat. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan bahan baku tanpa harus selalu mengandalkan perluasan lahan secara signifikan.
Menurut Kholid, kebijakan ketahanan energi juga harus memperhatikan keseimbangan antara peningkatan produksi, keberlanjutan lingkungan, serta aspek ekonomi masyarakat.
Cadangan Penyangga Energi Ditargetkan Bertahap
Selain memperkuat produksi, DEN juga mendorong percepatan pembentukan cadangan penyangga energi nasional.
Cadangan penyangga tersebut berbeda dengan cadangan operasional yang selama ini disiapkan badan usaha untuk memenuhi kebutuhan kegiatan sehari-hari.
Kholid menyebut cadangan penyangga energi diharapkan dapat mencapai kebutuhan setara impor selama 30 hari pada 2035.
> “Cadangan penyangga energi itu kalau bisa sampai 30 hari setara impor. Itu diberi waktu sampai 2035. Mudah-mudahan kita mengejar. Tetapi dalam waktu dekat, paling tidak sebelum bisa 30 hari, lima hari dulu atau 10 hari dulu. Secara bertahap kita bisa sampai 30 hari, idealnya 60 hari, lebih-lebih bisa 90 hari,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penguatan ketahanan energi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memproduksi energi, tetapi juga kesiapan menghadapi gangguan pasokan melalui ketersediaan cadangan penyangga.
Jambi Punya Posisi Strategis
Dalam konteks daerah, Jambi dinilai memiliki posisi strategis dalam sistem ketahanan energi nasional.
Provinsi Jambi memiliki berbagai potensi sumber daya energi, mulai dari minyak dan gas bumi, batu bara, biomassa hingga komoditas perkebunan yang dapat dikembangkan sebagai bahan baku energi.
Namun, besarnya potensi tersebut juga diikuti kebutuhan untuk memastikan masyarakat di daerah penghasil memperoleh pasokan energi yang memadai.
Kholid mengingatkan agar daerah penghasil energi tidak hanya berperan memasok kebutuhan wilayah lain, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan energi masyarakatnya sendiri.
> “Jangan sampai tikus mati di lumbung padi. Jangan sampai Jambi yang kaya energi ini kemudian justru kurang pasok energi. Kita harus pastikan daerah-daerah penghasil energi menyumbang daerah lain, tetapi jangan sampai kebutuhannya sendiri tidak tercukupi,” katanya.
Dengan demikian, ketahanan energi memiliki dimensi regional. Produksi energi dari suatu daerah perlu diikuti sistem distribusi yang efektif serta jaminan ketersediaan energi bagi masyarakat di wilayah penghasil.
Perguruan Tinggi Didorong Terlibat
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Jambi, Hafrida, mengatakan perguruan tinggi memiliki ruang kontribusi yang cukup besar dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Kontribusi tersebut dapat dilakukan melalui penelitian, pengembangan sumber daya manusia, serta penguatan pusat-pusat studi yang berkaitan dengan energi.
Menurut Hafrida, kerja sama antara perguruan tinggi dan pemangku kepentingan di sektor energi diperlukan agar penelitian yang dilakukan dapat menjawab kebutuhan nyata di lapangan.
> “Perguruan tinggi punya fungsi terutama penelitian. Kolaborasi dengan perguruan tinggi merupakan satu strategi yang cukup penting dalam rangka mewujudkan kebutuhan-kebutuhan energi,” ujarnya.
Universitas Jambi, kata dia, memiliki sumber daya akademik melalui Fakultas Sains dan Teknologi serta sejumlah pusat studi yang dapat dikembangkan untuk mendukung kajian energi.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada penelitian akademik, tetapi dapat menghasilkan inovasi dan solusi yang bisa diterapkan dalam mendukung kebutuhan industri, pemerintah, serta masyarakat.
Ketahanan Energi Membutuhkan Sinergi
Penguatan ketahanan energi nasional pada akhirnya membutuhkan pendekatan yang terintegrasi. Peningkatan produksi migas harus berjalan beriringan dengan eksplorasi, pemanfaatan teknologi, diversifikasi sumber energi, penguatan bahan baku energi terbarukan, serta pembentukan cadangan penyangga.
Pada saat yang sama, keterlibatan perguruan tinggi melalui penelitian dan pengembangan sumber daya manusia juga menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan energi jangka panjang.
Bagi Jambi, kekayaan sumber daya energi menempatkan provinsi ini dalam posisi strategis. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat dikelola secara berkelanjutan, mendukung kebutuhan energi nasional, sekaligus memastikan masyarakat di daerah penghasil tidak mengalami kekurangan pasokan.
Upaya menjaga produksi migas, memperkuat cadangan penyangga, memperluas diversifikasi energi dan membangun kolaborasi lintas sektor menjadi bagian dari agenda besar untuk memastikan ketahanan energi Indonesia tetap terjaga di tengah meningkatnya kebutuhan dan dinamika sektor energi nasional.(*/Red)
